Gambar ilustrasi untuk artikel: Anak Masuk Kedokteran atau Psikologi? Dilema Orang Tua dan Anak

Anak Masuk Kedokteran atau Psikologi? Dilema Orang Tua dan Anak

“Anak saya harus masuk Kedokteran. Kalau Psikologi, nanti lulusannya mau kerja apa?”

Ini realita client yang sedang saya hadapi minggu ini. Seorang client yang anaknya masuk masa seleksi kampus tahun ini. Sebuah dilema klasik: Ambisi orang tua yang menginginkan jaminan masa depan, mencoba mengusahakan yang terbaik vs Aspirasi anak yang punya minat dan sudah mengenali minatnya.

Ketika situasi ini dibedah lebih dalam untuk mencari “pencerahan”, akar masalahnya ternyata berpusat pada dua hal: Sudut Pandang dan Pengalaman Masa Lalu.

Percakapannya kurang lebih berjalan seperti ini:
1. Sudut pandang
Anak: “mau masuk psikologi”
Ayah: “ga boleh nanti kedepannya mau kerja apa bidangnya terlalu sempit. kalo ambil jurusan kedepannya juga harus liat output pekerjaan setelah lulus”

2. Pengalaman
Ayah: “Soale yg dikantor, orang psikologi orangnya judes trus nyebelin”
Ibu: “Semua?”
Ayah: “Di kantor cabang sama pusat sama karakternya seperti itu”

Kalau kembali ke teori Limiting Belief, sang ayah memiliki 2 dari 7 Limiting Belief.

Sang ayah tanpa sadar menggeneralisasi satu pengalaman spesifik di kantornya, lalu menjadikannya “kebenaran absolut” untuk memveto masa depan anaknya.

Solusinya bagaimana?
Pendekatannya bukanlah memihak, daripada beradu argumen lebih baik menjembatani konflik emosional ini dengan data dan realita

1. Uji potensi Talenta anak (Biar Data yang Bicara)
memetakan talenta alami sang anak secara objektif

  • Talenta alami nya ada dimana
  • Seberapa kuat dalam pendidikan dokter yang berat
  • Seberapa mampu lingkungan kerja medis nantinya
  • Seberapa cocok dengan karakter psikolog

2. Luaskan wawasan sang ayah
Saya menawarkan untuk ngobrol dengan 3 alumni psikologi yang saya kenal:

  • ada yang bekerja di Perusahaan Multi nasional
  • ada yang ambil profesi psikolog dan mendirikan konsulting
  • ada saudara jauh yang sudah profesi juga, kerja di perusahaan asing

Tujuannya satu: menghilangkan blind spot, sudut pandang yang belum terekspose.

3. Ayah dan anak kunjungi ke dokter dan mahasiswa kedokteran yang dikenal, yang bisa memberikan gambaran real oleh orang yang menjalani pendidikan dan profesi. Agar ekspektasi bertemu realita, tidak hanya sebatas angan-angan

Case ini masih berjalan dan belum diambil keputusan. Tapi sudah ada capaian: pemikiran terbuka sang ayah.

Obsesi orang tua, seberapapun mulia niatnya, berisiko tinggi jika dipaksakan pada profil talenta anak yang tidak sesuai.

Jangan sampai anak frustrasi dan burnout di tengah masa studi. Atau berhasil lulus tapi jiwanya tidak menikmati dalam menjalani profesi.

Fenomena “salah jurusan” memang selalu kompleks karena melibatkan banyak pihak dan banyak faktor.

Tapi, deteksi dini sebelum masuk lebih baik dari pada habis energi di jalan.

Baca juga:
Kurang Bermain di Masa Kecil, Dibayar Mahal di Masa Dewasa
Sering Sampai Interview User tapi Dighosting? Ini Kemungkinan Penyebabnya

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top