Menerima kerja orang yang tidak kompeten adalah Dzolim.
Karena memberikan pekerjaan diluar kemampuannya.
Bener nggak sih?
Karena, pengangguran katanya banyak, tapi yang benar-benar siap kerja itu jauh lebih sedikit.
bukan penganggurannya yang fiktif.
Yang salah adalah ekspektasi bahwa “banyak pengangguran = mudah cari talent siap pakai”.
Beberapa waktu terakhir mengadakan seleksi untuk beberapa posisi.
Yang terjadi di lapangan cukup bikin menghela napas:
- Interview Online, tapi laptop tidak siap untuk studi kasus, masih buang waktu install ini itu
- Diberi studi kasus sederhana, bingung mulai dari mana.
- Sudah setuju jadwal, tapi di hari H tidak muncul dan tidak ada kabar.
Di sisi lain, kita terus dengar kalimat, “Lapangan kerja sempit, cari kerja susah.”
Kontrasnya terasa sekali ketika lowongan sudah ada, tapi kesempatan itu tidak dipegang serius.
Saya jadi sampai pada kesimpulan ini:
yang banyak adalah orang yang butuh kerja,
yang sedikit adalah orang yang benar-benar siap kerja.
Siap itu bukan soal pintar ngomong saat interview.
Tapi hal-hal sederhana: disiplin hadir, menghargai waktu orang lain, mau membaca sebelum datang, dan berani mencoba mengeksekusi tugas yang diminta.
Perusahaan memang butuh talent yang “jadi”.
Kalau belum jadi, jangan mentah juga dong,
minimal setengah matang biar bisa dibikin matang.
Pengangguran mungkin tetap tinggi di angka.
Tapi yang paling terasa di ruang interview adalah gap antara “butuh kerja” dan “siap kerja”.
Menurutmu, kita lagi hidup di era kekurangan lapangan kerja, atau kekurangan orang yang siap kerja?
Baca juga:
Mungkin ini jawaban kamu gagal di hire
Background Checking, Referensi, Reputasi, dan Jejak Digital Itu Mahal


