Waktu 2013 Naik UMP 43%,
Sebagian besar pemilik bisnis panik.
Tapi ada Bos retail terkenal malah santai dan naikin standar kasir jadi S1.
Itu cerita di sesi Coaching tadi siang,
Coach menggambarkan titik beda antara pemimpin visioner dan pemimpin “sumbu pendek”.
Itu kisah tahun 2013, UMP DKI naik 43%.
Semua orang ribut. Ada yang demo, ada yang ancam tutup toko.
Di titik itu, kebanyakan dari kita mungkin langsung mikir soal:
“Margin jadi berapa nih?”
“Biaya operasional membengkak?”
Tapi ada satu bos retail yang reaksinya beda total.
Alih-alih marah-marah atau protes di media, dia kumpulkan tim intinya.
“Kalau biaya tenaga kerja naik setinggi ini,
kita tidak bisa lagi main dengan standar yang sama.
Mulai sekarang, untuk posisi kasir: minimal S1.”
Timnya kaget, karena sang bos tidak mengarah ke tekan cost.
Tapi jawaban sang bos visioner:
“Tidak ada gunanya ribut2, itu keputusan politik.
Justru karena cost naik, pastikan setiap kepala di sini bernilai lebih tinggi dari angka di slip gajinya.”
Dari situ, pelan-pelan strategi berubah:
- Proses rekrut dirombak
- Training layanan diperkuat
- Sistem & SOP diperjelas
- Kasir bukan lagi sekadar scanner barang dan terima duit
- Kasir adalah frontliner yang paham produk, paham pelanggan, dan paham angka.
Setiap tahun aturan pemerintah yang makin ketat.
Kenaikan biaya tenaga kerja, sewa, logistik, bahan baku.
Perubahan pajak, aturan ekspor-impor, sampai perubahan tren konsumen.
Reaksi paling manusiawi? Marah, Kesal, Capek.
Tapi dari bos visioner ini kita bisa adopsi,
Ada jalan lain:
- menaikkan standar kualitas,
- menjadikan konsumen rela bayar lebih mahal
kalau lingkungan bisnisnya naik biaya,
organisasinya harus juga naik kualitas.
Yang satu menghabiskan energi untuk menyalahkan perubahan.
Yang satu lagi menghabiskan energi untuk respon yang lebih cerdas.
Pilih yang mana?
Semua terserah pada anda
Baca juga:
CEO, direktur, dan senior leader selalu hadir di musim budgeting.
Industri telco tertekan justru dari internal.


