Mungkin ini jawaban kamu gagal di hire,
atau karirmu stuck nggak dipromosikan.
Kadang bukan skill yang salah… tapi profil kamu nggak nyantol di kursi yang tepat.
Minggu ini, kami ulang lagi psikotest di kantor. Terakhir tes ini diadakan November 2024. Test berlaku untuk semua tim dan semua role.
Bedanya, sekarang tim sudah banyak berubah. Ada yang promosi, pindah divisi, tim baru, dan resign.
Test untuk mengukur ada atau tidak perubahan dari test sebelumnya. Hasilnya? Bikin warna warni: Ijo, Orange, Merah. Ini visual level kecocokan profile DISC terhadap role pekerjaan yang ditempati saat ini.
Memang banyak yang tidak percaya hasil test begini. Tapi profil yang pas itu kayak pakai sepatu yang ukurannya pas. Dibawa lari maraton 10k sanggup.
Kalau nggak pas? Tetap sih bisa lari, bahkan bisa finish. Tapi sepertinya bakal bikin kaki lecet dan ngos-ngosan. Ini seperti pengamatan saya terkait cara kerja dan hasil kerja, yang memang banyak kok kesesuaiannya.
Apakah kalau profilenya kurang match tidak bisa perform?
Tetep bisa sih, tapi berarti dia telah mengeluarkan effort super luar biasa, dibandingkan tim yang profilenya match.
Nah, kombinasi antara [Skill – Attitude – Profile] ini penting. Tiga aspek ini jadi pertimbangan keputusan hiring maupun promosi/mutasi di banyak organisasi.
Idealnya 3 aspek ini match, artinya berpotensi perform dan long lasting karena tidak mudah capek. Dalam kondisi tertentu jika hanya 2 aspek saja bisa dipertimbangkan oleh decision maker dengan segala plus minusnya.
Pernah nggak sih kamu cari tahu: Cocok nggak sih profile saya dengan job yang di apply?
Kalau hasil tes bilang kamu nggak cocok, kamu percaya tesnya, atau percaya insting sendiri?
Baca juga:
Banyak orang open to work, tapi nyari kerja pakai resep viral.
Fresh graduate tidak bisa kerja? Belum tentu.


