Konsep human capital sudah lewat.
Mitos “SDM adalah aset” terbukti sekadar pemanis komunikasi.
Karyawan bukan lagi investasi jangka panjang untuk dikembangkan.
Selama bertahun-tahun kita memaksakan konsep ‘SDM sebagai aset’ tanpa dasar pembukuan yang nyata.
Dari dulu tidak pernah jelas SDM sebagai asset itu dicatat dimana.
Mereka adalah beban operasional (nyata) dalam neraca keuangan.
Bulan ini, insiden layoff massal (yang entah keberapa) di era AI mengonfirmasi status sebenarnya: SDM adalah liabilitas murni.
Sekarang adalah masa dimana sdm adalah liability yang paling mudah dan instan di write off (bahkan lewat email otomatis).
Ini adalah kegagalan memposisikan manusia sebagai aset riil, yang membuat mereka menjadi opsi pemotongan beban paling rasional dan instan saat efisiensi ditekan.
Ancaman pergeseran di era AI ini sangat nyata, terjadi di semua bidang dan tepat di depan mata kita.
Mesin efisiensi tidak pernah mengenal perasaan.
Tidak peduli seberapa strategis posisi kita saat ini.
Tidak peduli seberapa berdarah-darah loyalitas yang sudah kita buktikan bertahun-tahun.
Ketika algoritma, digitalisasi dan otomatisasi dinilai lebih menguntungkan secara hitungan bisnis, siapa pun tidak luput dari ancaman pemangkasan.
Kesetiaan di kartu nama tidak lagi bisa berfungsi sebagai tameng pelindung.
Menghadapi realitas ini, kita tidak perlu anxiety.
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah melepaskan ilusi rasa aman palsu.
Berhenti menyandarkan masa depan pada sistem apapun yang murni hanya memandang kita sebagai deretan angka dalam neraca akuntansi.
Tetap berkinerja baik, berikan outcome yang outstanding.
Secara paralel, kita harus mulai mengukur dan membangun nilai diri secara mandiri.
Fokuskan energi untuk memperkuat aspek dan hal yang tidak bisa dikomputasi oleh kecerdasan buatan.
Kemampuan empati dalam komunikasi, memahami konteks dari kompleksitas manusia, serta kebijaksanaan mengambil keputusan di ruang abu-abu yang penuh ketidakpastian.
Di tengah gelombang disrupsi dan ketidakpastian yang tidak tahu akan berjalan sampai kapan ini, wajar jika rasa cemas muncul.
Mari ambil jeda sejenak.
Kepanikan hanya akan membuat langkah kita brutal dan tanpa arah.
Ketenangan adalah suatu hal yang mutlak untuk mendapatkan kejernihan dalam memandang situasi yang sebenarnya.
Jika kita memiliki ruang yang hening dan jernih, kita bisa menata ulang dan membaca langkah ke depan.
Baca juga:
Waspadai Konten “Employee Heroes” di Media Sosial
SDM adalah aset perusahaan.


