Pernahkah di suatu momen anda duduk dan berpikir, “Perasaan baru tadi pagi mulai kerja, kok tiba-tiba sudah habis jam kerja, kerjaan masih numpuk? Cepat banget waktu berjalan.”
Saya yakin, kita semua pernah mengalaminya, walaupun setting dan situasinya berbeda. Seperti orang sedang berlari di atas treadmill yang kecepatannya terus bertambah, tapi sebenarnya tidak bergerak kemanapun.
Kemarin saya mendapat sebuah insight yang cukup telak dari sebuah sesi. Tamparan sederhana: “Tidak ada yang namanya time management”.
Terdengar aneh, apalagi di dunia profesional yang selalu mengejar produktivitas. Faktanya, waktu adalah sebuah konstanta mutlak, bukan variabel. Setiap orang selalu mendapatkan satu hari 24 jam. Satu jam selalu 60 menit. Waktu tidak bisa dipercepat, diperlambat, bahkan tidak bisa kita atur. Waktu akan terus berjalan dengan mekanismenya sendiri, terlepas dari seberapa keras kita mencoba mengendalikannya.
Jadi kita perlu melakukan apa? Apa yang sebenarnya bisa kita atur?
Jawabannya adalah Self Management.
Saat kita merasa waktu berjalan terlalu cepat, pekerjaan seolah tidak pernah selesai, dan tidak merasakan output yang signifikan, itu biasanya sinyal kuat bahwa kita sedang kehilangan personal clarity. Kita masuk ke mode autopilot dan bersikap reaktif. Kita merespons setiap notifikasi/panggilan, menerima semua interupsi, dan membiarkan diri terbawa oleh urgensi orang lain. Kita tidak sedang berenang, kita sedang hanyut terbawa arus.
Kalau pernah baca buku “Management Time: Who’s Got the Monkey”, ada istilah “menggendong monyet” (atau monkey management). Ini amat relate dengan monyet-monyet disekeliling kita. Kalau belum pernah baca, minimal silakan cari review buku nya.
Kembali lagi ke topik. Self management adalah proses mengambil kembali kemudi, memastikan semua dalam kontrol kita. Ini bukan cara memasang sebanyak mungkin agenda ke dalam kalender harian. Ini soal bagaimana kita mengatur diri kita sendiri terhadap waktu.
Kapan energi kita sedang di puncak untuk melakukan pekerjaan mendalam? Kapan kita harus berani bilang “tidak” atau “nanti dulu” demi menjaga fokus? Bagaimana kita membangun batasan yang sehat agar rutinitas tidak “memakan” diri kita?
Ketika kita memiliki ritme yang jelas dan memegang kendali atas fokus kita sendiri, sesuatu yang menarik akan terjadi. Lingkungan kita ,bisa itu rekan kerja-klien-tim, perlahan akan menyesuaikan diri dengan ritme yang kita susun tersebut.
Jika kita berhenti menjadi korban dari waktu yang sempit, kita akan mulai menciptakan ruang untuk kinerja yang benar-benar berdampak.
Sebelum lanjut ke aktivitas Anda berikutnya, mari jeda sejenak dan tanyakan pada diri sendiri: Hari ini, apakah saya sedang mencoba mengatur waktu, atau saya sedang mengatur diri saya sendiri?
Setiap orang menghadapi ritme dan “monyet-monyet” yang minta gendong dengan versinya masing masing. Jika Anda ingin bercerita tentang “monyet” atau bagaimana memegang kembali kendali atas rutinitas spesifik Anda saat ini, pintu DM saya selalu terbuka lebar.
Baca juga:
Berhenti Mencari Jawaban di Luar Sana
Jawaban Itu Tidak Pernah Ada di Orang Lain


