Ada perusahaan sudah keluar budget miliaran buat ERP.
Tapi tim masih setia dengan Excel.
Operasional pakai Google Form.
Excusenya sama: ERP nya tidak akomodir
Custom ERP nya lama dan mahal
Padahal, ERP yang baik itu adalah yang sesuai standar best practice
bukan selera user dan cara kerja lama
User yang melakukan transformasi,
bukan ERP yang didandani jadi orang baru dengan muka lama
Yang saya dan tim temui di lapangan,
jarang karena “ERP-nya kurang canggih”.
Yang sering kejadian: workflow, trust dan rasa aman user tidak pernah benar-benar diakomodir.
Yang terjadi juga:
- Staff takut salah klik karena sekali salah, efeknya ke modul lain yang krusial.
- Atasan maunya semua dia approve, akhirnya antrian approval menumpuk, tim nggak gerak.
- ERP seperti makhluk kaca, mudah pecah, tidak ada ruang “aman” buat user.
ERP apapun pada dasarnya kuat.
Yang tidak dibangun adalah jembatan antara sistem dan manusia.
Ketika rekan asosiasi ada yang mau membangun ERP, posisi JAVAN jelas.
Buat kami, ERP itu teman
Posisi kami bukan “kompetitor ERP”.
Kami tidak bersaing dengan ERP.
Kami tidak menggantikan ERP.
Kami mendampingi ERP supaya workflow benar-benar mengikuti kebutuhan dan risiko di perusahaan.
Jika workflow dirapikan dan rasa aman user dibangun, hasilnya:
- ERP tidak lagi jadi kambing hitam dan musuh bersama
- ERP bisa jadi single source of truth
- Manajemen mulai percaya keputusan yang diambil dari data di ERP.
Insight sederhananya:
- Teknologi bisa dibeli.
- Rasa aman dan kebiasaan kerja harus didesain.
Untuk itu Kami adalah tim yang merancang ulang workflow di sekitar ERP:
alur kerja lintas departemen, aturan main, sampai layer aplikasi pendamping yang memang dibutuhkan.
Banyak yang implement ERP, tapi tidak tahu bagaimana biar makhluk eksklusif ini bisa dipakai tanpa rasa khawatir.
Silakan berbagi pandangan: Apa ERP anda dan jadi Sistem eksklusif atau dipakai secara luas.
atau via DM jika agak Sensitif
Baca juga:
Banyak yang mau digitalisasi, tapi baru mulai udah ngitung lisensi: berapa user, paket apa.
Procurement Maunya Akuntabel, User Maunya Agile: Siapa yang Dikorbankan?


