Kalkulator di ponsel di atas laporan keuangan

Budget IT kita habis, tapi hasilnya nggak kelihatan.

Budget IT kita habis, tapi hasilnya nggak kelihatan.
Saya dengar kalimat ini dari klien swasta, pemerintah, sampai startup.
Apa yang bikin mereka jatuh di lubang yang sama?

Banyak faktor yang menimbulkan hal diatas, tidak ada 1 sebab yang sama disemua company. Simak penjelasan sampai akhir, mungkin ini bisa memberi insight untuk anda.

Pertama: IT dianggap sebagai Cost Center, bukan Center of Excellence.
Padahal, dengan mindset ini, IT akan selalu sebagai beban, bukan enabler. Akibatnya, inisiatif digital hanya fokus pada efisiensi jangka pendek, bukan mendorong bisnis growth atau membuka peluang baru.

Kedua: Technology Lock.
Banyak company yang tersandera oleh teknologi yang diadopsi dan harus terus mempertahankan. Misal yang banyak terjadi, terlanjur microsoft banget investasinya, akhirnya semua teknologi harus based microsoft, tidak ada ruang adopsi open source.

Ketiga: Buru-buru implementasi
IT Planning sangat penting untuk bisa menjalankan budget IT secara efisien. Banyak kejadian terlalu terburu-buru tapi tidak matang.

Keempat: People & Skill Gap
Teknologi sudah canggih, budget sudah besar, tapi tim internal belum siap mengoperasikan dan mengoptimalkan. Akhirnya solusi mahal hanya dipakai setengah-setengah.

Kelima: Tidak ada Business-IT Alignment
IT berjalan di jalannya sendiri, bisnis di jalannya sendiri. Padahal IT seharusnya menjadi enabler strategi bisnis, bukan sekadar pelengkap.

Salah satu case yang nyata, saya pernah melakukan analisis laporan keuangan salah satu perusahaan:

  • Asset Rp 700an Miliar
  • Revenue Rp 490an Miliar
  • Laba Rp 94an Miliar

Budget IT hanya Rp 3 Miliar, realisasi Budget Rp 2 Miliar.

Dari sisi laba, perusahaan ini terlihat sehat. Tapi kalau kita lihat alokasi IT yang hanya 0.4% dari revenue, apakah cukup untuk mendukung transformasi digital jangka panjang?

Sepertinya jajaran manajemen punya pandangan yang berbeda terkait dengan IT, belum punya curiosity karena bisnisnya masih bagus.

Baguskah itu? Relatif terhadap strategi. Tapi apakah itu sudah tepat? Itu adalah ruang diskusinya.

Kalau menurut Anda, apakah budget Rp 2 Miliar untuk IT di kondisi seperti ini sudah tepat? Atau justru under-investment?

Baca juga:
Implement ERP terkenal untuk ratusan orang, tapi cukup bayar 3 user saja.
CEO, direktur, dan senior leader selalu hadir di musim budgeting.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top