Procurement-nya maunya akuntabel, user-nya maunya Agile
Akhirnya yang dikorbankan: hasil dan vendor.
Sering terjadi dalam proses pengembangan dan implementasi sistem.
Procurement sudah set semuanya rapi:
- goal project dan deliverable,
- timeline jelas,
- anggaran disepakati.
Tapi usernya intervensi dan bilang:
“Kita pakai agile aja ya. Biar fleksibel kalau mau ada perubahan.”
Kelihatannya ini mudah, semua terdengar modern.
Di lapangan, ini sering jadi perdebatan.
Kenapa?
Karena yang satu maunya clear-fixed (scope, biaya, waktu).
Yang satu maunya Cair (bisa berubah kapan saja).
Mau akuntabel, tapi pengin juga bebas.
Akhirnya bukan agile, tapi main “agile-agile an”.
Fakta brutal soal agile yang jarang diomongin orang:
-> Setelah sekian sprint, bisa jadi tidak ada produk yang benar-benar layak dipakai.
Kenapa?
Karena setiap kali sprint mau selesai,
user datang dengan “sedikit perubahan lagi”:
- Ini diubah dikit aja…
- Kemarin direksi request tambahan…
- Boleh ya geser prioritas sprint ini…
Sprint jalan, Tapi di ujungnya…
Tidak ada real release.
Tidak ada value produk yang benar-benar dinikmati ke user.
Yang pasti cuma satu:
- tim tetap harus dibayar, berapa pun sprint yang dihabiskan, ada ataupun tidak ada produk akhir.
Agile itu proses, tapi Bisnis tetap taunya: hasil,
Auditor maunya pertanggungjawaban
Sebagai leader, tugas kita bukan sekadar “lebih agile”.
Minimal, 3 hal ini harus jelas sejak awal:
1. Definisi “selesai” yang disepakati
2. Panduan untuk perubahan. Boleh berubah, tapi ada biaya & konsekuensinya
3. Procurement & user duduk di meja yang sama untuk tujuan bisnis bersama
- Procurement jaga disiplin biaya & kontrak.
- User jaga relevansi kebutuhan.
Keduanya mengerti cara kerja agile, bukan pakai istilahnya saja.
Agile punya benefit dan konsekuensi, tanpa best practice yang benar akan jadi Aaaa Gile…
Baca juga:
ERP Mahal, Tim Masih Pakai Excel: Siapa yang Harus Berubah?
Jangan berharap redenominasi batal.


