Gambar ilustrasi untuk artikel: Flowchart digambar pakai Visio, katanya detail dan teliti

Flowchart digambar pakai Visio, katanya detail dan teliti

Flowchart digambar pakai Visio, katanya detail dan teliti
Tapi disimpan manis di lemari arsip, nggak ada yang peduli
Pas implementasi? Semua jalan sendiri

Pemodelan Bisnis Proses dipakai untuk SOP instansi maupun untuk aplikasi biasanya memakai Flowchart. Sebenarnya tidak ada yang salah, hanya saja: Setelah digambar, flownya diapakan?

Yang menyusun pun kadang masih ragu dan galau. Ada pertanyaan sedikit, bisa goyah dan langsung revisi. Aktor yang terlibat kurang detail, alurnya tidak jelas.

Mungkin yang penting bukan jelasnya proses bisnis, yang dicari tenangnya rapat koordinasi. Asal ada arsip yang siap untuk audit, semua dianggap aman.

Dari sekian banyak client yang pernah kami dampingi, polanya nyaris sama, ada beberapa hal yang menjadi permasalahan:
1. Perumus tidak menguasai metode menggambarkan bisnis proses. Default biasanya adalah flowchart, itupun tidak sesuai dengan yang ada.
2. Tools yang dipakai tidak standar, biasanya memakai tools gambar online
3. Tidak kreatif dalam mengelaborasi proses bisnis dan aktor yang terlibat
4. Tidak ada dokumentasi gambar proses bisnis versi lama, biasanya hanya ada SOP yang berbentuk teks.

SOP dan proses bisnis yang bagus bukanlah yang gambarnya keren, tapi yang bisa dan konsisten dijalankan.

Penyusunan SOP dan proses bisnis seringkali formalitas. Implementasinya? Kadang jauh dari yang digambarkan.

  • Pernah mengalami hal serupa?
  • Atau sedang berusaha menghidupkan SOP di organisasi Anda?

Silakan share insight atau cerita nyatanya.
Diskusi bisa jadi pembelajaran bersama.

Baca juga:
Merasa jadi korban sistem? Bisa jadi Anda malah bagian dari kerusakannya.
Banyak ide gagal dieksekusi, bukan karena teknologinya. Tapi karena tim-nya Kuper.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top