Merasa jadi korban sistem? Bisa jadi Anda malah bagian dari kerusakannya.
Tidak puas. Tidak bersuara. Tidak maksimal kerja.
Tapi tetap bertahan dan merasa jadi korban.
Mungkin… yang toxic sebenarnya Anda sendiri.
Dimanapun dan seperti apapun sistem dalam sebuah organisasi, pasti tidak akan bisa memuaskan ekspektasi dari semua orang yang ada didalamnya. Seperti cuplikan famous quote If you want to make everyone happy, don’t be leader. Sell ice cream.
Organisasi yang baik di drive oleh Visi Misinya, bukan orang-orangnya. Sistem bukan kitab, bukan hal yang saklek, tapi wajib ditaati dulu sebelum di evaluasi untuk dibenahi.
Ketika saya menangani tim yang selalu menuntut adanya SOP, saya selalu bilang: Kerjakan yang ada, tulis bagaimana kamu bekerja, tulis hasilnya. Nanti kita perbaiki SOP dari hasil pekerjaan nyata, bukan hanya dari wacana.
Seperti orang menikah, kalau cari yang sempurna, orang akan melajang seumur hidup. Kalau ketemu yang sempurna, emang dia mau sama kamu?.
Terkait dengan sistem, ada 4 kriteria organisasi:
1. Banyak organisasi yang tidak punya sistem/SOP.
2. Banyak organisasi yang punya sistem/SOP tapi tidak ada mekanisme pengukuran pelaksanaan sistem/SOP.
3. Sedikit organisasi yang punya sistem/SOP, ada mekanisme pengukuran, tapi tidak punya mekanisme konsekuensi.
4. Lebih sedikit lagi yang punya sistem/SOP, ada pengukuran, dan ada konsekuensi.
Dengan mencapai kematangan implementasi sistem/SOP, manajemen dapat mereduksi orang orang toxic yang ada dalam organisasi. Dia bisa jadi positif tapi bisa jadi hidden toxic.
Penting bagi manajemen untuk mengidentifikasi orang toxic, membina jika masih bisa dibina, dan dikeluarkan jika sudah tidak lagi sejalan.
Berpisah lebih baik dari pada saling menyakiti dan menebar racun.
Kalau Anda pernah jadi ‘korban sistem’, apakah Anda juga pernah coba memperbaikinya? Atau justru… ikut merusaknya diam-diam?
Baca juga:
Banyak ide gagal dieksekusi, bukan karena teknologinya. Tapi karena tim-nya Kuper.
Weekly review bukanlah sesi basa-basi.


