Gambar ilustrasi untuk artikel: Workflow-nya sudah digital, tapi approval masih harus menghadap.

Workflow-nya sudah digital, tapi approval masih harus menghadap.

Workflow-nya sudah digital, tapi approval masih harus menghadap.
Ini bukan transformasi, ini tambal sulam digital, ganti seragam doang.
Mindset kolonial ketemu tools kekinian? Bukan efisiensi, malah nambah emosi.

Banyak organisasi melakukan digitalisasi, tapi tidak disertai revolusi mindset dan cara berpikir.

Bukan salah yang vendor/tim IT implementasi nya sih. Karena yang diminta dan dilakukan adalah memasang aplikasi, bukan menata ulang visi-misi dan arah gerak organisasi.

Visi misi digitalisasi hanya ada di dokumen, yang tidak teraktualisasi. Hal ini karena tidak tahu cara aktualisasinya dan tidak punya counterpart diskusi strategis yang seimbang.

Konsultan memang tugasnya memberi saran. Oleh karena itu, stakeholder harus open mind terhadap usulan-usulan perubahan yang akan membawa perubahan kedepan. Jika stakeholder denial, usulan konsultan terasa seperti ancaman.

Kadang ketakutan terbesar bukan dari teknologi baru, tapi takut akan perubahan itu sendiri. Takut cara kerja yang lama tidak dipakai lagi. Takut tidak relevan. Takut tidak disegani lagi. Takut belajar hal baru.

Pada setiap transformasi, yang paling berat bukan teknis transformasinya, tapi mengupgrade mindset dan pemikiran stakeholder dan pelaku proses bisnis.

Teknologi mudah di upgrade tiap tahun.
Tapi upgrade mindset butuh bertahun-tahun kalau tidak ada Revolusi Mindset secara Radikal.

Apakah ada familiar dengan kondisi seperti ini?

Baca juga:
User dan Leader bukan takut gagal Transformasi Digital.
Banyak yang mau digitalisasi, tapi baru mulai udah ngitung lisensi: berapa user, paket apa.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top