User dan Leader bukan takut gagal Transformasi Digital.
Mereka takut disalahkan.
Banyak project transformasi digital yang sebenarnya sudah benar, tapi tetap ditolak?
Kalaupun berjalan, tidak smooth?
Padahal ROI-nya jelas, roadmap-nya rapi, bahkan vendor-nya punya track record solid.
Tapi, banyak meeting-nya berakhir dengan kalimat klasik: Kita bahas lagi di kuartal depan
atau bahkan ekstrimnya Kita bahas lagi di Tahun depan
Bukan karena proposalnya jelek.
Karena buyernya belum merasa aman.
Di dunia nyata, keputusan IT jarang soal fitur atau harga.
Lebih sering soal siapa yang berani tanda tangan dan take responsibility dan menanggung resiko hasilnya.
- Level direksi takut kehilangan kredibilitas dimata shareholder.
- Manager takut KPI-nya terusik.
- User takut beban kerja nambah.
- Procurement takut kena temuan auditor.
Jadi ketika kita bicara ROI, mereka mendengar sebuah resiko kredibilitas.
Ketika kita bicara efisiensi, mereka membayangkan sebuah disrupsi, perannya digantikan.
Itulah kenapa saya selalu bilang:
Transformasi Digital bukan hanya soal tools.
Tapi lebih dari itu: soal TRUST.
Soal menjamin kredibilitas dan nama baik demi karir.
Itulah mengapa, saya mengedepankan memberi rasa aman kepada tiap stakeholder yang terlibat.
Memastikan semua pihak yang terlibat tidak mendapatkan resiko yang tidak bisa di handle.
Setiap orang care dengan reputasinya di nomor urut 1, baru optimasi bisnisnya.
Menurut anda terdengar egois apa realistis?
Baca juga:
Workflow-nya sudah digital, tapi approval masih harus menghadap.
Seorang IT Manager pernah bilang ke saya


