Gambar ilustrasi untuk artikel: Banyak ide gagal dieksekusi, bukan karena teknologinya. Tapi karena ti

Banyak ide gagal dieksekusi, bukan karena teknologinya. Tapi karena tim-nya Kuper.

Banyak ide gagal dieksekusi, bukan karena teknologinya. Tapi karena tim-nya Kuper.
Orang mengira ‘kuper-kurang pergaulan’ hanya di kalangan remaja, yang tidak mengikuti trend dan jarang bersosialisasi.
Padahal di dunia kerja, sikap kuper juga sering jadi penghambat eksekusi.

Tim yang tertutup, enggan atau berat kolaborasi lintas tim, bisa berdampak pada misi/pekerjaan yang kurang baik. Tapi justru dari situ, ketika mengelola tim yang kompleks saya bisa belajar bahwa transformasi bukan soal teknologi saja, tapi juga mindset kerja kolaboratif dan supportif.

Saya pernah observe online meeting tim. Agak gemes ketika lihat yang open cam hanya leadnya, yang lain matiin kamera. Sampai saya bilang Kasihan leadnya kalau yang lain off cam.

Peserta lain ada diskusi tapi sekadarnya. Akhirnya saya masuk ke diskusinya dan meminta semua open cam. Saya tanya beberapa orang yang jarang bersuara, dan memaksa mereka menyampaikan pendapatnya.

Ternyata, begitu saya tanya langsung untuk berpendapat, jawabannya… ternyata yang disampaikan cukup menarik. Ketika jarang mau menyampaikan ide kalau tidak dipaksa, akibatnya? Mungkin ada ide bagus yang tidak dipakai karena tidak pernah disampaikan.

Mereka bukan nggak bisa, tapi kayaknya perlu dipaksa agar ‘mainnya lebih jauh’. Pesan Saya minimal sesi diskusi bisa open cam, agar terasa aura dan semangatnya, dan ide jadi lebih tajam.

Dalam pekerjaan / dunia professional, bentuk kuper ada banyak:

1. Ngobrolnya cuma sama temen satu tim, lulagi lulagi.
Organisasi dibuat tim-tim untuk menyelesaikan tugas. Banyak terjadi tidak pernah bertukar pikiran dengan tim atau divisi lain untuk mendapatkan feedback atau sumbangan ide dari masalah atau program yang sedang dijalankan

2. Nggak mengamati perkembangan dunia luar terkait trend terbaru
Jaman terus berubah, perilaku pegawai-konsumen-pelanggan juga terus berubah. Hal ini perlu di amati dan dianalisa pengaruhnya terhadap apa yang sedang dilakukan oleh perusahaan.

3. Jarang mencari/meminta feedback
Feedback diperlukan agar solusi/hasil kerja yang kita kerjakan dapat sesuai dengan goal dan berdampak ke perusahaan. Jika hasilnya memuaskan, tentunya tidak perlu banyak revisi. Jika kurang bagus? harus revisi besar atau mengulang dari awal.

Hal ini tidak terjadi jika rutin meminta early feedback. Jika ada kesalahan, bisa segera di revisi dan diperbaiki.

Memang setiap orang pasti sibuk, dengan tugasnya, tapi jika kita dapat mengelola cara diskusi, hal itu tidak akan memberatkan.

Kurangnya diskusi lintas tim bukan hanya soal komunikasi. Ini bisa memicu delay misi dan miskomunikasi user requirement jika dalam lingkup proyek.

Diskusi tidak harus secara langsung maupun melalui meeting, bisa melalui email. Salah satu tools efektif untuk meminta feedback adalah Google Documents, kita bisa highlight bagian dan me-mention seseorang untuk meminta feedback atas bagian tersebut.

Pernah kerja bareng tim yang seperti ini ? Atau… malah kamu sendiri pernah ngerasa ‘kuper’ juga?

Baca juga:
Merasa jadi korban sistem? Bisa jadi Anda malah bagian dari kerusakannya.
Weekly review bukanlah sesi basa-basi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top