Orang ramai-ramai sedang terjebak “Halo Effect”.
Cenderung ingin mewajarkan kekeliruan seseorang di satu panggung karena dia adalah sosok berjasa di panggung yang lain.
Sebaliknya, ada juga kecenderungan untuk menghapus seluruh kontribusi masa lalu seseorang hanya karena satu kesalahan baru.
Ramai dan banyak dibahas diberbagai timeline media sosial hari ini tentang bagaimana rekam jejak seorang tokoh dievaluasi oleh publik. Ada karya luar biasa yang telah mengubah cara hidup jutaan orang. Di ruang dan waktu yang berbeda, ada rekam jejak kebijakan yang memicu konsekuensi berat. Anda harusnya paham tanpa perlu di jelaskan siapa beliau.
Realitas dunia profesional seringkali “kejam” dan tanpa kompromi.
Objektivitas menuntut kita untuk melihat segala sesuatunya pada tempatnya.
Jasa tetaplah jasa.
Kesalahan tetaplah kesalahan.
Kontribusi besar di satu ekosistem tidak otomatis menjadi “tameng” dari akuntabilitas di ekosistem yang lain.
Portofolio masa lalu yang gemilang dan berdampak luas, tidak bisa digunakan sebagai alat tukar untuk menutupi dampak dari sebuah kebijakan yang keliru.
Ini adalah pengingat keras untuk kita semua yang berada di dunia kerja maupun kepemimpinan (dimanapun tempatnya). Reputasi yang dibangun bertahun-tahun tidak membuat kita bebas dari evaluasi pada tanggung jawab di peran berikutnya.
Setiap peran baru, setiap tanggung jawab baru, menuntut standar kompetensi, kehati-hatian, dan pertanggungjawaban yang berdiri sendiri.
Ayo melatih diri untuk menilai secara proporsional. Mengapresiasi karya masa lalu tanpa harus membutakan mata pada fakta dan konteks. Menegur kesalahan tanpa harus kehilangan rasa hormat pada kontribusi yang memang pernah diberikan.
Dalam konteks korporasi, ini biasanya terjadi pada kasus “orang lama” yang telah banyak berjasa. Ketika suatu saat ada kasus, ada pro kontra antara memaklumi (karena jasa) dan menegakkan aturan.
Ini sering dialami business owner maupun manajemen perusahaan.
Baca juga:
Jalur Sukses Itu Memang “Sempit” dan Sunyi, Tidak Semua Orang Kuat.
Satu Halaman, Satu Pengakuan: Langkah Kecil Membuka Luka Lama


