Ghost Branding: Hadir secara eksistensi, kosong secara identitas.
Audiens melihat postingannya, tapi tidak melihat “jiwa” authornya.
Ini salah satu fenomena yang ada di LinkedIn: Terus menerus aktif posting, tapi dengan konten random yang diambil dari media sosial lain tanpa credit ke pemilik konten. Biasanya dalam bentuk berbagai kutipan motivasi, analisis bisnis, analisis brand dari lembaga atau expert dibidangnya. Sebagian besar di antaranya adalah konten dari platform lain seperti Instagram.
Tujuannya sebenarnya sangat sederhana: menjaga agar akun tetap aktif tanpa perlu berpikir mendalam tanpa perlu “dicap AI output”.
Tapi sebenarnya ada ironi disini. Tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana cara berpikir orang di balik akun itu. Tidak ada jejak pemikiran otentik, tidak ada sudut pandang profesional yang khas.
Melakukan kurasi konten adalah praktik yang sangat wajar. Tapi, membagikan karya orang lain secara mentah-mentah hanya menjadikan profil kita sebagai etalase tanpa isi. Apalagi tanpa menambahkan perspektif pribadi dan melupakan kredit kepada kreator asli.
Inilah alasan utama saya tidak pernah memaksakan diri untuk mempublikasikan konten setiap hari.
Tekanan untuk terus terlihat eksis sering menjebak kita dalam perlombaan kuantitas. Saya lebih memilih untuk mengambil jeda ketika belum ada pemikiran yang cukup matang untuk dibagikan. Jauh lebih bermakna absen sementara dari linimasa daripada harus hadir menggunakan suara pinjaman yang bukan milik sendiri (*menurut keyakinan saya).
Bagi saya, branding profesional bukan sekadar tentang seberapa sering nama kita lewat di layar orang lain. Ini tentang gagasan apa yang terlintas di kepala mereka saat nama kita disebut. Apa karakter dan yang dipikirkan orang lain tentang kita.
Baca juga:
Kenapa Like Selalu Lebih Banyak daripada Comment
LinkedIn itu katanya buat bangun personal branding.


