Pernahkah kita memperhatikan sebuah pola saat membaca kisah seseorang melalui buku biografi atau autobiografi tokoh-tokoh besar? Baik itu tokoh politik penguasa atau pebisnis yang membangun brand dan perusahaan berkelas.
Jika kita perhatikan lebih detail lagi, bagian yang paling menarik bagi kita jarang sekali tentang seberapa banyak kekayaan mereka hari ini. Kita juga malas membaca daftar panjang aset secara detail atau seberapa powerful kekuasaan yang pernah mereka pegang.
Perhatian dan yang menyita perhatian kita justru selalu tertuju pada bab-bab awal. Kisah darimana mereka berasal dan memulai dari titik mana. Dan juga bagian pertengahan, yang itu biasanya adalah masa-masa sulit mereka.
Bagian masa ada penolakan yang mereka terima, kegagalan yang menyakitkan, dan perjuangan berdarah-darah yang harus mereka lalui untuk bisa berdiri kembali. Sering juga kesendirian karena tidak banyak yang membersamai mereka saat sulit.
Fenomena ini menunjukkan sebuah realitas mendasar tentang diri kita. Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk pencari nilai (value seekers), jauh melebihi sekadar makhluk materialistis.
Kita akan terenyuh dan terhubung dengan kisah perjuangan karena di sanalah nilai-nilai ketangguhan, harapan, dan keberanian itu nyata. Fenomena ini juga sering muncul di LinkedIn, kisah kisah perjuangan selalu menyita atensi member.
Konsep manusia sebagai pencari nilai ini sangat relevan dengan realitas keseharian profesional kita. Kebetulan, kemarin saya mengikuti sebuah webinar pengembangan diri. Salah satu kontennya mendiskusikan topik yang relevan dan menjadi momok di dunia kerja: Burnout.
Ada satu pemahaman tajam yang dibahas di sana. Selama ini, kita terbiasa menyamakan burnout dengan sekadar kelelahan akibat beban kerja yang menumpuk, lembur, maupun banyaknya jobdesk.
Kenyataannya, burnout terjadi ketika kita mulai kehilangan nilai dan makna pada pekerjaan yang sedang kita lakukan. Kelelahan fisik atau mental bisa disembuhkan dengan tidur yang cukup atau mengambil cuti beberapa hari. Namun, saat makna itu hilang, tidur maupun cuti berhari-hari pun tidak akan mengembalikan semangat dan jiwa kita saat kita kembali duduk di meja kerja.
Rasa kosong itu muncul karena kita berhenti melihat “nilai” dari apa yang kita kerjakan setiap hari. Menggantinya dengan sekedar kewajiban harian yang dilakukan untuk mendapatkan upah.
Tulisan ini related dengan anda?
Mari luangkan waktu sejenak, lima menit saja sebelum Anda lanjut menjalankan rencana-rencana hari ini.
Coba refleksikan kondisi pekerjaan, tim, atau bisnis Anda saat ini:
1. Apakah rasa penat yang Anda rasakan belakangan ini murni karena kelelahan fisik, atau sebenarnya Anda sedang kehilangan makna dari pekerjaan tersebut?
2. Nilai apa yang dulu membuat Anda sangat bersemangat saat pertama kali mengambil tanggung jawab ini?
Menemukan kembali personal clarity tentang mengapa kita melakukan pekerjaan adalah langkah pertama yang krusial. Terkadang, kita tidak butuh liburan yang jauh, kita hanya butuh alasan yang kuat untuk kembali melangkah.
Platform jeda selalu tersedia di
Untuk anda sekadar menuangkan pikiran dan pemikiran agar lebih jernih.
Baca juga:
Jalur Sukses Itu Memang “Sempit” dan Sunyi, Tidak Semua Orang Kuat.
Ramadhan: Berhenti Sebentar Sebelum Lanjut


