Para wisudawan berjubah biru muda dan bertopi toga di upacara wisuda

Kak, magangnya bisa dikonversi jadi SKS nggak?

Kak, magangnya bisa dikonversi jadi SKS nggak?
Tanya salah satu peserta open house program magang.

Saya balik bertanya: Perlu apa saja untuk bisa konversi SKS?
Dia jawab: Belum tahu, masih belum cari tahu

Momen ini menyadarkan saya: seringkali, skill bertanya bukan sekadar berani bicara, tapi juga menguasai apa yang ingin ditanyakan.

Itulah mengapa pada sesi tanya jawab, seringkali terjadi tidak ada yang bertanya atau pertanyaan sedikit tapi tidak berbobot.

Tidak menguasai topik dan enggan ditanya balik adalah salah satu hal yang memicu minimnya interaksi dalam suatu sesi. Tidak hanya jaman sekarang, kenyataan ini sudah terjadi sejak dulu.

Pola pengajaran satu arah membuat minimnya interaksi dan olah pikir. Banyak pengajar/pemateri ambil aman, takut reputasi jatuh bila tidak bisa menjawab pertanyaan.

Padahal tidak bisa menjawab pertanyaan bukanlah suatu aib. Ada banyak faktor yang bisa dikomunikasikan. Juru Bicara (Jubir) juga harus memiliki mentalitas seperti ini. Tidak mungkin menguasai dan menjawab semua pertanyaan on the spot tanpa persiapan dan tanpa pencarian informasi.

Bersyukurlah kalau anda sebagai trainer/pengisi acara, sesi QnA berjalan dan hidup karena antusiasme peserta. Itu priceless.

Bagaimana pengalamanmu menghadapi peserta yang tidak siap bertanya?
Atau sesi yang penuh jangkrik krik-krik?

Baca juga:
Evolusi Tarik Ulur Industri dan Kampus
Fresh graduate tidak bisa kerja? Belum tentu.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top