Malam ini anak saya bercerita, sesaat sebelum lampu kamar dipadamkan. Bukan tentang dirinya, tapi tentang temannya yang “sukses” menyelinap keluar sekolah, jajan lalu memamerkannya di grup kelas, hingga akhirnya tetap ketahuan dan menerima sanksi.
Sebenarnya ini cerita penting nggak penting. Tapi ada sebuah rasa syukur yang hinggap di hati saya. Bukan karena isi ceritanya, melainkan karena fakta bahwa dia ingin bercerita. Dia merasa aman untuk berbagi sudut pandangnya tentang dunia di luar sana kepada ayahnya.
Satu hal yang selalu saya syukuri, di tengah seliweran berita tentang fatherless, di mana sebenarnya fisik seorang ayah ada tapi belum menjamin hadirnya secara penuh. Saya merasa momen menjadi pendengar tanpa jarak seperti ini terasa begitu berharga.
Bahagia itu tiap orang itu beda. Kehadiran seperti inilah yang bagi saya menjadi definisi bahagia hari ini. Definisikan bahagiamu bersama orang didekatmu. Sebelum waktu akan mengubahnya. Sebelum kondisi akan menjauhkannya.
Sebuah jeda untuk kita renungkan bersama sebagai orang tua: Sudahkah kita menjadi telinga yang cukup tenang untuk menampung cerita mereka hari ini?
Untuk yang belum jadi orang tua: Sudahkah kita menebar kebaikan melalui kata-kata yang menyenangkan untuk orang tua kita?
Baca juga:
Parenting dan Bagian Diri yang Belum Selesai
5 Menit Sebelum Lanjut – Edisi 5


