Webinar siang ini akhirnya menjawab satu pertanyaan yang mengganjal di kepala saya.
Kenapa dua kasus belakangan ini:
- Prilly dan Traveloka –
menjadi sangat emosional bagi begitu banyak orang?
Jawabannya bukan karena kasusnya saja.
Tapi karena konteks zaman kita sedang berubah.
Kita tidak lagi hidup di era VUCA.
Sekarang kita ada di Era BANI:
- Dunia terasa rapuh (Brittle)
- Banyak orang hidup dalam kecemasan (Anxious)
- Perubahan tidak lagi linier (Nonlinear)
- Dan sering kali sulit dipahami (Incomprehensible)
Ditambah satu akselerator besar: AI.
Bukan soal teknologinya saja,
tapi soal ketakutan diam-diam akan tergantikan.
Yang menarik, banyak orang sebenarnya belum benar-benar siap.
Masih berada di fase “tidur hangat”,
menarik selimut kenyamanan lama,
sampai suatu hari terbangun dan sadar:
Dunia hari ini
sudah sangat berbeda dibanding setahun lalu.
Dan jujur saja,
kita pun tidak tahu satu tahun ke depan akan seperti apa.
Di situ saya mulai melihat satu pola.
Di masa seperti ini,
kesadaran diri sepenuhnya bukan lagi pilihan.
Ia menjadi kebutuhan.
Arah hidup, peran, dan keputusan
tidak bisa lagi dibiarkan kabur.
Dan yang sering dilupakan:
di tengah perjalanan, sekoci juga harus disiapkan.
Bukan karena ingin menyerah,
tapi karena dunia memang tidak lagi bisa diprediksi dengan nyaman.
Fase seperti ini sering terasa sepi.
Tidak semua orang punya ruang aman untuk berpikir jujur.
Sudah siapkah Anda?
Atau masih berharap dunia kembali seperti dulu?
Baca juga:
Dari Hajatan Satu RT ke Produksi Berbasis AI: Iklan Sirup dan Disrupsi
OpenClaw dan AI yang Bertindak Seperti Pegawai Baru


