Buku terbuka melayang di antara tumpukan buku di perpustakaan

Gramedia punya Digital Publishing System (DPS)

Gramedia punya Digital Publishing System (DPS)
Digital tapi nggak Agile
Kalah sat set sama self publishing platform

Saat jaman serba cepat, korporasi bukan hanya harus go digital, tapi harus punya agile mindset. Kalo nggak, kalah saing dengan yang muda-lincah-adaptif.

Contoh mudah soal publikasi buku ebook.

Siapa yang tidak kenal kejayaan Gramedia sebagai toko buku maupun peserbit sebagai bagian dari Kompas Gramedia. Tapi sekali lagi, jaman berubah. Banyak toko buku sepi, bahkan toko buku Gunung Agung sudah resmi menutup semua gerai di 2023.

Ada pergeseran literasi dan lifestyle. Terbukti malah platform digital seperti Wattpad yang naik daun. Jadi literasi masih tumbuh, hanya caranya yang berbeda.

Balik lagi ke DPS, ada platformnya sih, tapi tidak terbuka bagaimana orang submit kesana dan akan di publikasi. Syarat yang ketat, proses yang lama dan tidak transparan menyebabkan menulis buku hanya untuk penulis yang sudah punya nama.

Saya pernah coba submit, tapi setelah 1 bulan, tidak ada pergerakan log catatan. Akhirnya punya kesimpulan kalo bukan siapa-siapa, nggak dianggap.

Tapi semua telah di dobrak, sekarang bermunculan platform self publishing, yang memungkinkan penulis pemula bisa muncul tanpa harus melewati birokrasi.

Saya melakukan uji banyak platform, ada yang simpel ada yang ribet ada yang lambat. Yang worth menurut saya untuk dicoba adalah lynk, clicky, dan karyakarsa.

Sekalian kemarin juga sekalian register ke mentorship platform dealls statusnya sudah approved dan AdpList yang masih in progress, ternyata banyak juga isiannya.

Apakah anda juga sudah coba self publishing platform?
Atau malah sudah jadi penulis profesional seperti pak Agung Setiyo Wibowo ?

Baca juga:
Kalau layananmu bukan satu-satunya, jangan paksa customer.
Startup bisa unicorn, tapi duitnya bukan unlimited

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top