Rezeki memang punya logikanya sendiri, sering kali tidak masuk akal jika diukur hanya dengan hitung-hitungan matematis dan logika manusia.
Sering kita melihat di LinkedIn:
- Ada HR yang mengeluh kandidat ghosting, sementara di kolom komentar banyak yang berteriak, “Andai saya yang diundang, saya pasti hadir.”
- Ada peluang kerja yang sudah dipaparkan detail, tapi dilewatkan dengan seribu alasan.
- Sebaliknya, ada yang sedang tidak mencari kerja, malah “ditemukan” oleh peluang besar.
- Bahkan, ada tawaran layanan gratis yang jelas bermanfaat tanpa syarat, tapi diabaikan/ditolak karena malas atau sekadar negative thinking.
Kemarin saya juga mendapati seorang teman yang terlambat mengikuti event langka yang saya share, merasa kehilangan momen karena melewatkan hal yang biasanya berbayar. Sangat disayangkan dia melewatkan kesempatan langka yang seharusnya bisa dinikmati cuma-cuma.
Kenapa fenomena ini terjadi?
Mungkin memang begitulah keseimbangan dunia.
Kalau semua orang bergerak cepat (gercep), rajin, dan responsif di saat yang sama, dunia justru akan kehilangan porosnya.
Bayangkan:
- Jika semua orang jadi produsen, siapa yang akan menjadi pembeli?
- Jika semua orang sudah serba bisa dan rajin, industri jasa tidak akan punya ruang untuk berkembang.
Ketidakteraturan inilah yang sebenarnya menciptakan peluang bagi kita yang ingin mengambil peran lebih. Perbedaan ritme antara si rajin dan si pemalas, si optimis dan si skeptis, justru itulah yang membuat roda ekonomi tetap berputar.
Rezeki itu sudah ada takarannya, tapi ia juga butuh “wadah” yang siap. Jika hari ini kita merasa sudah berusaha tapi belum melihat hasil, atau sebaliknya melihat orang lain mendapatkan kemudahan tanpa usaha berarti, ingatlah bahwa kita sedang memerankan bagian dari keseimbangan dunia ini. Yang kita lihat secara kasat mata, itu belum tentu 100% yang terjadi.
Tugas kita bukan memaksa logika rezeki, tapi memastikan kita tetap berada di barisan yang siap saat pintu itu terbuka.
Selamat hari Rabu. Waktunya sejenak mengambil jeda sebelum lanjut kembali.
Refleksi Siang: 5 Menit Sebelum Lanjut.
* Setelah beberapa pekan vakum dari edisi Newsletter, semoga edisi kali ini memberikan warna.
Baca juga:
Konsep Funnel: Kesepian di Ujung Jalan Itu Biasa
5 Menit Sebelum Lanjut – Edisi 3: Tentang Jarak yang Tidak Terlihat


