Gambar ilustrasi untuk artikel: 5 Menit Sebelum Lanjut – Edisi 3: Tentang Jarak yang Tidak Terlihat

5 Menit Sebelum Lanjut – Edisi 3: Tentang Jarak yang Tidak Terlihat

Ada yang sedang menjalankan program yang sudah tersusun rapi. Target jelas. Timeline ada. Tanggung jawab tidak kecil.

Namun di sela-selanya, masih ada sisa bulan lalu yang belum benar-benar selesai. Penolakan yang terasa menempel lebih lama dari yang diperkirakan. Percakapan yang terhenti. Respon yang tak kunjung datang. Upaya yang harus diulang dari awal.

Di permukaan, semua tampak biasa. Di dalam, ada yang seperti berputar.

Ada yang bertanya dalam diam: apakah pekerjaan ini akan menjadi cerita seumur hidup? Apakah akan ada masa yang lebih ringan? Apakah kata “cukup” itu benar-benar ada?

Sebagian mengingat masa kuliah yang terasa menyenangkan. Belajar sambil bermain. Waktu terasa lapang. Sekarang angka-angka terasa lebih keras: harga rumah, biaya hidup, rencana masa depan. Umur bergerak, tetapi rasa aman belum tentu ikut bergerak.

Ada juga yang memikirkan masa depan keluarga. Mencari sesuatu yang bisa dibanggakan dari diri sendiri, selain reputasi “yang bisa diandalkan”. Merasa seperti mendaki, namun sesekali seperti turun. Mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi ragu apa yang sungguh perlu dilakukan.

Kadang terasa seperti terjebak. Kadang seperti berlarut dalam satu kejadian kecil yang akarnya banyak. Satu hal memunculkan hal lain. Keinginan masih ada, namun tenaga untuk menginginkan mulai berkurang.

Manusia memang bisa merasa lemah sekaligus bertanggung jawab. Bisa ragu sekaligus tetap bekerja. Bisa takut tidak cukup, tetapi tetap mencoba memberi manfaat.

Tidak semua orang menjadi luar biasa di usia muda. Tidak semua orang merasa yakin setiap minggu akan produktif. Tidak semua orang tahu dengan jelas siapa dirinya hari ini.

Namun ada yang sering berjalan tanpa sorotan: kesediaan untuk tetap hadir. Menyimpan kecewa tanpa mengubah niat untuk berbuat baik.

Barangkali hidup tidak selalu bergerak dengan cara yang dramatis. Kadang ia hanya bergerak pelan. Kadang ia seperti diam, padahal sedang menyiapkan sesuatu yang belum terlihat.

Jika minggu ini terasa penuh pertanyaan, mungkin tidak perlu segera diberi jawaban. Ada hal-hal yang memang lebih jujur saat dibiarkan tenang.

Bila ingin menuliskan apa yang belum selesai di kepala, ruang kecil itu ada di

jeda.sugihartono.id

tanpa penilaian, tanpa tuntutan.

Masa depan mungkin belum jelas. Namun hari ini tetap sedang dijalani. Dan sering kali, itu sudah cukup untuk satu langkah yang tidak perlu diumumkan.

Baca juga:
5 Menit Sebelum Lanjut – Edisi 2
5 Menit Sebelum Lanjut – Edisi 5

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top