Saya pernah berdiskusi soal harga buku.
1 juta itu mahal atau murah?
Jawabannya: relatif.
Kalau cuma dilihat sebagai buku,
jelas terasa mahal.
Tapi kalau buku itu:
- bikin seseorang lebih serius praktik
- menghindari trial-error yang tidak perlu
- mempercepat hasil, bukan sekadar menambah bacaan
ceritanya jadi beda.
Bayangkan begini.
Dengan buku itu,
seseorang bisa dapat pekerjaan dalam 2 bulan.
Tanpa arah yang jelas,
rata-rata butuh 5 bulan.
Selisihnya bukan 3 bulan waktu.
Tapi:
- 3 bulan gaji
- 3 bulan energi
- 3 bulan rasa ragu
Jadi pertanyaannya bukan lagi:
Bukunya mahal atau tidak?
Tapi:
Biaya apa yang sedang kita hindari?
Kadang yang terlihat mahal di depan,
justru yang paling murah di belakang.
Kalau kamu,
lebih sering menilai harga dari nominal
atau dari percepatan hasil?
Baca juga:
Evolusi Tarik Ulur Industri dan Kampus
Kak, magangnya bisa dikonversi jadi SKS nggak?


