Kalau cara berpikir dan cara mengambil keputusan masih sama,
apakah 2026 akan benar-benar berbeda?
Atau resolusi 2026 hanya akan menjadi ritual FOMO tahunan?
Saya sering melihat pola ini di leader & profesional senior:
- Strateginya ada
- Pengalamannya kuat
- Kerjanya keras
Tapi saat tekanan datang:
- Terlalu reaktif
- Terjebak di rutinitas yang sama
- Sulit berpikir jernih
Mereka bukan kurang pintar.
Tapi terlalu lama bertumpu dan berjalan sendirian di kepala mereka sendiri.
Di sinilah coaching sering disalahpahami.
- Coaching bukan untuk “memperbaiki” orang.
- Coaching bukan untuk memberi motivasi kosong.
Coaching itu ruang untuk:
- Menata ulang cara berpikir
- Memperluas sudut pandang
- Meningkatkan komitmen diri
- Mengurangi blind spot
Dalam coaching, saya sering mulai bukan dari solusi,
tapi dari tiga pertanyaan sederhana.
Kalau postingan ini sampai di feed anda,
terasa seperti mengena banget dengan saat ini,
mungkin bukan sebuah kebetulan.
Bagi orang FOMO, akhir tahun adalah resolusi
Bagi Mindset pemenang, ini momen jujur pada diri sendiri:
- apa yang layak dibawa ke 2026
- apa yang harus ditinggal di 2025
Bukan soal target baru,
Ini soal mindset yang tidak boleh ikut ke tahun depan
Momen paling penting dalam coaching biasanya terjadi
saat seseorang menemukan hambatan lama yang selama ini ia bawa,
dan memilih fokus ke masa depan.
Saya membuka beberapa slot coaching awal tahun.
Kalau anda penasaran, DM saja.
Atau cukup simpan postingan ini
kadang keputusan besar memang tidak perlu diumumkan.
Baca juga:
Di Fase Mana Anda Hari Ini? Refleksi untuk Profesional Senior
Sombong dan Percaya Diri itu beda tipis


