Gambar ilustrasi untuk artikel: Musuh Terbesar Kemajuan: Beban yang Tak Terucap

Musuh Terbesar Kemajuan: Beban yang Tak Terucap

Ternyata, musuh terbesar dari kemajuan bukanlah ketidakmampuan, melainkan “beban yang tak terucap”.

Kemarin saya memulai proses fasilitasi dengan komunitas dan circle terdekat saya. Goalnya untuk membantu memetakan arah hidup dalam beberapa aspek, karena memang kami seumuran.

Proses belum selesai, baru tahap awal proses penggalian concern dan goal. Namun, saya menemukan sebuah pola yang menarik.

Banyak profesional hebat yang saya temui tampak sangat stabil di permukaan. Namun saat masuk ke ruang yang lebih privat:

  • Ada ketakutan tentang masa depan yang disimpan rapat.
  • Ada konflik batin yang enggan dibagikan ke pasangan atau anak.
  • Ada keinginan untuk “berhenti sejenak” yang selama ini dipendam.
  • Ada harapan untuk berkembang, tapi ada “ketakutan” dan kurang percaya diri.

Menurut saya, ini sangat wajar. Kita sering merasa harus kuat untuk orang lain, hingga lupa bahwa kita juga manusia yang butuh ruang untuk didengar. Perlu perspektif dari sudut pandang lain, agar langkah yang diambil lebih fresh.

Saya bukan ahli segala hal yang akan memberikan semua jawaban. Menemani dan membantu menemukan “kompas” itu kembali di tengah kerumunan pikiran lebih bermakna untuk mereka. Mereka adalah ahlinya dibidang masing masing.

Hidup tidak harus dijalani sendirian. Terkadang, kita hanya butuh Jeda untuk mendapatkan Clarity.

Baca juga:
Sekarang yang langka: murid yang nurut petunjuk guru/mentor.
Komitmennya nol, tertinggal di folder Downloads.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top